Daerah  

Wan Malaya: Pernyataan Panglima TNI Kontra Produktif dengan Kenyataan di Lapangan

Pikiranmadani.com, Banda Aceh — Mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Tgk Samsuar, kecewa terhadap pernyataan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto yang menilai partai lokal sebagai pemicu konflik di Pilkada 2024. Asumsi itu dinilai terlalu prematur dan kurang valid.

Dalam pernyataan pers-nya, Sabtu (23/3/2024), eks GAM yang sering disapa Wan Malaya itu menilai, statement Paglima TNI sangat paradoks dan kontra produktif dengan kondisi Aceh yang tergolong kondusif. Kata dia, tidak ada ketegangan politik yang berarti di tengah masyarakat.

Ia bahkan menilai pernyataan panglima TNI cenderung provokatif dan berpotensi mengusik situasi damai Aceh. “Kami tidak ingin rakyat kembali berkonflik dan terbelah pasca penetapan pengumuman hasil pileg dan pilpres oleh KPU RI 2024,’’ ujarnya.

Wan Malaya menyatakan keyakinannya bahwa mengakui kondisi di lapangan sangat kondusif tanpa gejolak apapun, jauh dari isu konflik yang menyeret polemik bendera Bulan Bintang. “Itu tidak ada kaintanya. Hemat kami, apa yang di sampaikan panglima TNI sungguh di luar konteks, informasi kurang lengkap sehingga menimbulkan kebingungan publik yang justeru berpotensi menimbulkan gejolak,” terangnya.

Sebagai politisi Partai Aceh, Wan Malaya tidak membantah posisi strategis partai Aceh yang dikaitkan sebagai wadah penampung aspirasi manyoritas masyarakat dari para mantan kombatan GAM. “Tapi kita di Partai Aceh juga sudah sangat terbuka untuk senantiasa merekrut dan menerima banyak suku lain di luar Aceh bergabung di partai, seperti suku Jawa, Batak, Padang, dan lain-lain,” tegasnya.

Tidak itu saja, sambung Wan Malaya, banyak dari kalangan pensiunan TNI/Polri di Aceh juga memilih Partai Aceh sebagai lokomotif untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat. “Jadi, telah menjadi komitmen kami tetap ikhlas pada perjanjian damai MoU Helsinki dan NKRI harga mati untuk diperjuangkan demi terciptanya kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Dia menambahkan, posisi Partai Aceh sudah sangat jelas bahwa sejak awal membangun koalisi permanen dengan Partai Gerindra, termasuk dalam agenda pemenangan pasangan Prabowo-Gibran pada pilpres tahun 2024.

Atas dasar itu, Wan Malaya meminta Panglima TNI agar mengeluarkan statemen yang bisa membangun keteduhan di tengah masyarakat. Untuk kepentingan tersebut, kata dia, bisa menggandeng Partai Aceh agar bisa lebih intensif saling bekerja sama dalam melakukan penguatan demokrasi di Aceh dengan prinsip menjaga kepentigan seluruh partai politik di Indonesia secara adil dan setara tanpa diskriminatif.

Dia menyatakan, bahwa sebagai masyarakat sipil, pihaknya akan tetap mendukung sinergisitas Panglima TNI memitigasi dan mencegah terjadinya potensi konflik horizontal pada pemilihan kepala daerah (PILKADA) 2024 yang akan datang. “Termasuk mengajak Partai Aceh agar lebih antisipatif dengan tidak melakukan pengibaran bendera bulan bintang tanpa instruksi atau kebijakan Partai Aceh,” ujar Tgk Wan.

Tgk Wan juga sangat berharap kepada panglima TNI untuk tidak lagi mengeluarkan statemen yang bisa memantik pro kontra dan pembelahan di masyarakat. “Kita meyakini Partai Aceh sekarang sudah jauh terbuka pada spirit politiknya kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi untuk konsisten mengawal keutuhan KNRI),” pungkas loyalis Mualem itu.[*]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *